Selasa, 22 Desember 2015

Mbah kholil dan macan tutul

Alkisah, seseorang berkebangsaan Arab berkunjung ke Pesantren Kedemangan, Bangkalan, Jawa Timur. Masyarakat Madura menyebutnya habib. Kala itu, Syaikhona KH Muhammad Kholil sedang memimpin jamaah sembahyang maghrib bersama para santrinya.
Usai menunaikan shalat, Mbah Kholil pun menemui para tamunya, termasuk orang Arab ini. Dalam pembicaraan, tamu barunya ini menyampaikan sebuah teguran, “Tuan, bacaan al-Fatihah Antum (Anda) kurang fasih.” Rupanya, sebagai orang Arab, ia merasa berwenang mengoreksi bacaan shalat Mbah Kholil.

Setelah berbasa-basi sejenak, Mbah Kholil mempersilakan tamu Arab itu mengambil wudhu untuk melaksanakan sembahyang maghrib. “Silakan ambil wudhu di sana,” ucapnya sambil menunjuk arah tempat wudhu di sebelah masjid.

Baru saja selesai wudhu, si orang Arab tiba-tiba dikejutkan dengan munculnya seekor macan tutul. Dengan bahasa Arab yang fasih, ia berteriak dengan maksud mengusir si macan. Kefasihan bahasa Arabnya tak memberi pengaruh apa-apa. Binatang buas itu justru kian mendekat.

Mendengar keributan di area tempat wudhu, Mbah Kholil datang menghampiri. Mbah Kholil paham, macan tutul itu lah sumber kegaduhan. Kiai keramat ini pun melontarkan sepatah dua patah kata kepada macan. Meski tak sefasih tamu Arabnya, anehnya, sang macan langsung bergegas pergi.

Orang Arab itu akhirnya mafhum, kiai penghafal al-Qur’an yang menguasai qiraat sab’ah (tujuh cara membaca al-Qur’an) ini sedang memberi pelajaran berharga untuk dirinya. Nilai ungkapan seseorang bukan terletak sebatas pada kefasihan kata-kata, melainkan sejauh mana penghayatan atas maknanya.

Selasa, 08 Desember 2015

Blembeng memories






DISKUSI SEDERHANA


Aku akan segera bergabung dengan masa silam alias akan dipanggil oleh Tuhan”,
kata seorang kiai di suatu sore kepada santri-santrinya. “Aku akan segera
berlalu, masaku akan segera dikuburkan. Kamu sekalian para santri sekarang mulai
menapaki masa peralihan dan anak-anakmu akan menjadi penghuni jaman baru yang
dahsyat dan mengagumkan sesudah orde yang sekarang”.

“Sami’na wa ‘atho’na..”, kata para santri dengan penuh ta’dzim. “Hamba mohon
wahai pak kiai tancapkanlah cahaya yang menerangi cakrawala hamba jalani”.

Sang kiai terkekeh-kekeh. “Bahasa dan tata prilakumu semacam itu adalah bahasa
generasiku. Sehingga besok akan terkubur bersamaku dan bahasamu yang bisa
dikenal oleh masyarakat adalah bahasa Rap, bahasa extacy, dan bahasa-bahasa yang
makin tidak mengenal sopan santun. Hei berlatihlah untuk meninggalkan upacara
dan sopan santun yang barbagai dan bertele-tele semacam itu. Kemudian mulailah
satu cara hidup yang praktis, yang prakmatis, yang efektif dan efisien. Kemudian
karena engkau adalah bapak dari anak-anakmu kelak, dan cara hidup baru itulah
modal utama yang engkau ajarkan kepada anak-anakmu, agar mereka sanggup berlari
seirama dengan jaman yang mereka jalani. Cara hidupmu yang bertele-tele jangan
engkau warisi dan jangan engkau wariskan kepada generasi dibawahmu agar mereka
tidak digilas oleh buldoser oleh suatu makhluq baru yang esok lusa akan lahir
semakin banyak lagi”.

Si santri bertanya, “Apa nama makhluq baru itu pak kiai..?”

Sang Kiai menjawab, “namanya Al Khonglomeraat..”.

“Makhluq apa itu gerangan pak kiai..?!”.

“al khonglomeratu kabirun jiddan.. tubuhnya sangat besar.. salah satu kakinya di
pantai teluk jakarta, kaki lainnya di gunung sebelah selatan Surakarta”.

“Pak kiai.. itu pasti semacam Gatot Koco yang berotot kawat bertulang besi..”.

“Bukan anakku, otot mereka bukan kawat dan balung mereka bukan besi tapi otot
mereka adalah jalan-jalan tol, tulang-tulang mereka adalah cor-cor besi
gedung-gedung pencakar langit”.

“Jadi kalau begitu mereka sangat kuat ya kiai..”.

“Sangat-sangat kuat.. maka katakan pada saudara-saudaramu dan anak-anakmu jangan
berusaha sekali-kali melawan mereka kalau belum sungguh-sungguh menghitung
kekuatan sendiri”.

“Pak kiai, persisnya berapa kuat makhluq bernama khonglomerat itu..?”.

“Hampir tak tebayangkan karena dia sanggup mengalahkan dengan mudah semua
pendekar-pendekar ulung. Apalagi sekedar bernama gubenur atau mentri. Kalau
sekedar bupati atau setingkat hanya dijadikan slilit-slilit kecil disela-sela
giginya. Bahkan ada pimpinan-pimpinan didaerah seperti itu yang memaksakan
sebuah proyek harus segera dilaksanakan karena dia dipindahkan dari jabatannya
dan harus mendapatkan bonus dari proyek yang dikerjakannya itu”.

“Ajaib ya pak kiai..!!”.

“Ya, ajaib.. kalau konglomerat meludah, setetes air liurnya menjadi sepuluh ton
supermie. Kalau dia bersin riaknya menjadi miliayaran virus-virus. kalau batuk
jadi apa..? Kalau batuk jadi mall.. supermarket dan plaza-plaza..”.

“Luar biasa kiai..! kalau begitu makan mereka itu apa sehari-hari..?”.

“Makanan mereka adalah sejenis jajan yang bernama Rakyat Kecil”.

“Kalau demikian..”, kata si santri, “Akan aku ajarkan pada anak-anakku ilmu
binatang”.

“Lho.. apa maksudmu dengan ilmu binatang?”, tukas pak kiai.

“Ilmu keserakahan yai…”.

“Darimana kamu memperoleh ilmu bahwa ilmu keserakahan adalah milik binatang?”.

“Lho, pak kiai gimana, sudah menjadi pengetahuan umum sepanjang jaman bahwa yang
dimaksud kebinatangan adalah kerakusan, kebencian dan kebiadaban”.

Sang kiai tertawa terbahak-bahak, “Kiai mana yang ilmunya sesat seperti itu..??
Tidak ada binatang yang rakus itu.. tidak ada.. binatang itu selalu berhenti
makan kalau sudah kenyang. Tidak ada binatang yang sudah kenyang masih terus
makan. Manusialah yang terus makan meskipun sudah kenyang.. Manusialah yang
tidak pernah merasa cukup meskipun sudah memiliki ribuan perusahaan. Manusialah
dan bukan binatang yang tetap merasa kurang meskipun ditangannya sudah
tergenggam seratus milyar, meskipun sahamnya sudah berekspansi sampai
kehutan-hutan dan dasar lautan maupun gunung-gunung disebelah wetan”.
“Manusialah..”, kata pak kiai, “..yang meskipun telah dia kuasai harta yang bisa
dipakai untuk membeli 10 kota besar berpendapat bahwa yang ia jalani adalah pola
hidup sederhana!. Kalau 10 ekor semut bergotong-royong mengangkut sejumput gula,
mereka tidak akan menoleh meskipun disekitarnya tergeletak sejumput gula yang
lain. Tapi kalau manusia… manusialah yang selalu sangat sibuk mengisi
ususnya dengan penguasaan industri makanan dan kosmetik, industri otomotif,
properti bahkan industri manipulasi atas Pancasila dan Kitab Suci”.


Santri mbeling ( Mbedugal tapi eling )